Jogja 08'Feb'2014
#Ini tulisan bisa disebut edisi galau. dan tulisan ini ku tuli sekitar awal tahun 2014
#Ini tulisan bisa disebut edisi galau. dan tulisan ini ku tuli sekitar awal tahun 2014
Semua orang bertanya tentang kehidupan asmara'ku. Seperti pasien yang mengidap
kanker yang sebentar lagi akan lenyap dari muka bumi. Sekarat. Menunggu. Minum
obat yang hanya bisa meringankan rasa sakit. Mungkin semua karena aku
lemah. kata ibuku, aku adalah gadis kuat, jarang sakit. kalaupun sakit
paling bertahan sehari atau dua hari, tapi pernyataan ibu tentang "aku
anak kuat" sepertinya tidak berlaku disini. Di hati, ini perasaan. Aku
sedang sekarat di hati, bukan karena "dicampakkan'nya" karena sungguh
aku mengakui dengan jujur, perasaan yang meng gebu-gebu itu sudah lama tak
terasa, entah karena kehabisan bahan bakar, atau mungkin karena sudah lama
"dingin" di perapian. Kami sudah lama berada di "ringan"
ini, kenapa aku bertahan? Serius. “aku juga tidak tahu” kalau boleh ku
kira-kira, mungkin NYAMAN. yaaa.. Mungkin aku nyaman dengan keadaan ku saat
itu. Dibilang tanpa kekasih, aku punya, dibilang ada tapi ya keberadaannya yang gak jelas. jadi kalau cuma buat setatus, aman dari pemikiran orang. God damt!
Saat ini aku sedang menempuh studi lanjut ku, memang terdengar sibuk,
tapi sebenarnya: sangat'lah sibuk. Tugas setiap minggu (meski selalu telat).
waktu untuk menunggu "pesan", waktu untuk mununggu "hp"
berdering dengan tulisan "love oppa", waktu untuk mengecek
"status fb'nya", mengintip tulisan-tulisan di"blog'nya" :
rasanya sudah tidak banyak lagi. Akhir kata aku nyaman dengan ketenangan'ku.
Nyaman dengan tak mendengar suaranya, meski berbulan-bulan lamanya. Seperti
cermin rasa yang sudah hilang kelekatannya.
Ia pun mulai hilang tanpa kabar. Kami sepertinya sedang merasakan hal
yang sama-sama tak berasa. Sudah lama aku tak bermimpi tentangnya lagi, tak tau
cara menjelaskannya. yang jelas dengan keadaan ini membuatku berpikir aku harus
percaya pada teori mimpi yang diperkenalkan freud : bahwa orang akan cenderung
memimpikan hal yang ia harapkan atau inginkan di kehidupan nyatanya. teori ini
menjelaskan keadaan perasaanku saat itu : PADAM. :)
Sekitar sebulan lalu. Ya sebulan lalu. Dia mencampakkanku. Aku
dicapakkan. tercampakkan. hanya itu kata-kata yang tepat. harusnya aku
menulis ini sebulan lalu. tapi "aku"?
DIAM..
DIAm..
DIam..
Diam..
diam...
Tanpa melakukan apa-apa :)
Baiklah. Aku sakit hati. Disakiti. Dan ku harapkan aku benar dan tak
pernah salah dalam hal ini. Ini bukan salahku. Semua yang terjadi padaku
hanyalah hal yang disebabkan orang lain, salahnya. Terdengar kekanak-kanakan
memang. Terus kenapa? Aku lah yang tersakiti disini. Aku lah yang merasa sakit.
Dan aku berhak memilih cara untuk sembuh.
Komentar
Posting Komentar