Untuk
ayah.
Hari
ini adalah hari senin yang sangat membosankan. salahnya aku sudah menanti senin
ini dari jumat kemarin. Berharap senin ini akan berbeda, jauh lebih baik dari
senin kemarin. Pacar baruku seperti air didanau, yah. Buruk tanpa ombak. Seperti film yang tidak
bermaknakan apa-apa. Tidak menarik sama sekali. Kau tahu kan aku tak suka
danau, tak suka pura-pura mengerti bahasa alam. Tak menyukai pegunungan,
apalagi sendirian. Kadang, ingin sekali mengakhiri hubunganku dengannya yah,
ini sedikit merepotkanku, berpura-pura mencintai seseorang yang bahkan
mengangkat telponya saja rasanya mual. Laki-laki yang yang tak pernah mau “membuka
pikirannya”, keras kepala, dan berpura-pura pintar. Menjijikan ya, yah. Hahaaa :D
Pernah
beberapa kali, di bulan lalu mencoba berhubungan kembali dengan si gila.
Ternyata dia jauh lebih menyebalkan dari biasanya. Ia hanya mengatakan satu
hal, “kalau ku minta apa kamu bersedia hidup denganku?” padahal setahuku dia
masih kuliah, tapi pikirannya jauh lebih parah dari biasanya. dia suka bicara
tanpa memikirka akibatnya lebih dulu. Nikah? Makan apa nanti, batu ya
kali. Pasti ayah senyum-senyum kalau
lihat aku nggerutu begini :*
Ayah,
katakan padaku siapa yang kau inginkan nanti jadi pendamping hidupku? Rasanya
tak ada laki-laki yang baik untukku. Bagaimana menurutmu ayah? Apakah hidup
akan terus begini? Mencari sesuatu yang tidak ingin dicari. membosankan dan selalu
sangat rumit. Berhari-hari memikirkan satu hal. Berhari-hari tak memberimu kabar gembira lagi.
Maafkan
anakmu, yah. Semua yang kau harapkan belum ku wujudkan. Semoga tesisku cepat
selesai yah. Doakan juga dapat kerjaan yang bagus. Dan semoga laki-laki yang
mendampingiku nanti, sama sepertimu. Menyayangiku, bahkan sebelum dia tahu apa
aku bisa membalas kasih sayangnya sepertimu.
Yah,
masih bangun kah?
Yah,
aku ingin pulang. Aku sangat merindukanmu. Disini sangat membosankan. Entah apa
yang salah. Saat bersama seseorang dirumah makan kemarin, ia bertanya apa aku
selalu se’tidak peduli itu? Ayah, aku tak tau apa yang salah denganku. Setiap
ada laki-laki yang mendekatiku, mereka selalu terlihat konyol dimataku. Katakan padaku, apa ini. Apa ayah dulu juga
seperti ini, sepertikku sebelum bertemu ibu?. Ini seperti permainan pikiran, semua bersekat
dadu dikepalaku. Tak bisa kukuasai dengan mudah. Ayah, banyak skali yangku
pikirkan akhir-akhir ini. Ingin jujur cerita padamu tentang semuanya, tapi
bagaimana kalau nanti membuatmu ‘kepikiran”. Tidak. tidak. aku sangat
mencintaimu untuk sanggup menceritakan semua.
Yah,
kemarin saat aku menanyakan “apakah ayah masih merasa kurang sehat?” jawabanmu
sangat mempengaruhiku ayah. Semalaman aku tak bisa nyenyak. Kalau ngobrol sama
ibu, ibu pasti cerita “betapa gendutnya” ayah sekarang. Hahaaaaa tapi tetap
saja jantungku ingin berhenti berdetak kalau mendengar cerita tentang ayah. ingin rasanya jadi dokter saja, agar bisa
mengobati ayah seorang heheee. Tapi ayah bilang “psikologi juga bagus”. ^_^
Semoga
kau baik-baik saja dirumah sana yah. Ibu, titip ayah ya.. :*
Doa
indah untukmu :*
12 Jan 2015
Komentar
Posting Komentar